Di China, Perempuan Lahirkan Anak Kedua Dibayaran Pemerintah

Di China, Perempuan Lahirkan Anak Kedua Dibayaran Pemerintah

100
BERBAGI
Propaganda kebijakan satu keluarga satu anak terpampang di area publik di China. Kebijakan ini resmi dihapus sejak tahun 2015.

PANTAUDESA.COM, BEIJING—Demi mendongkrak angka kelahiran, Pemerintah China mempertimbangkan menggelontorkan subsidi pada pasangan yang memiliki anak kedua. Hal ini terjadi setelah kebijakan satu keluarga satu anak yang diterapkan di China dihapus pada 2015 lalu.

Berdasarkan laporan China Daily yang mengutip Wang Peian, vice minister of the National Health and Family Planning Commission, Rabu 1 Maret 2017, Pemerintah China mempertimbangkan reward dan subsidi atas kelahiran bayi setelah beberapa dekade memberikan pinalti kepada keluarga yang memiliki anak lebih dari satu.

Dikabarkan, China menghadapi hangover dari kebijakan satu anak yang diterapkan pada akhir 1970an tersebut. Lantaran itu kebijakan memberikan insentif dinilai sangat wajar dilakukan karena dari data Badan Statistik China menunjukkan, tingkat kelahiran di China pada tahun lalu mencapai 17,86 juta. Naik 1,3 juta bayi dari posisi 2015.

Jika kebijakan ini diberlakukan, targetnya adalah angka kelahiran bisa bertambah 17 juta bayi di 2020, sehingga angkatan kerja muda bertambah 30 juta orang di 2050. Peningkatan angkatan kerja dapat mendongkrak potensi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5%.

“Mindset warga negara saat ini berubah dari mengontrol kelahiran menjadi kecemasan mengenai rendahnya angka kelahiran. Namun, banyak orangtua yang masih menolak untuk menambah anak meski pemerintah sudah mendorong mereka untuk melakukannya,” kata Chen Xingdong, chief China economist BNP Paribas SA di Beijing.

Menurutnya hal ini dikarenakan masyarakat cenderung ingin memiliki anak yang lebih sedikit saat mereka lebih kaya dan lebih berpendidikan.

Insentif tersebut, jika disetujui akan menunjukkan perubahan fundamental yang signifikan Partai Komunis dalam pendekatan terhadap perencanaan keluarga. Yakni dari membatasi angka kelahiran menjadi mendorong angka kelahiran.

EDITOR: AHWAL AHMAD
SUMBER: BLOOMBERG