Empat PR Indonesia dan Pemuda

Empat PR Indonesia dan Pemuda

114
BERBAGI
Muhammad Rajul Kahfi, saat berfoto bersama teman-temannya.

Penulis: Muhammad Rajul Kahfi

Masyarakat yang plural atau majemuk, yang ditandai dengan beraneka ragam budaya, etnis, dan latar belakang sejarah, menuntut adanya upaya penataan diri bersama agar terbangun suatu hidup bersama dalam masyarakat yang stabil dan dinamis.

Hidup bersama yang hanya mengutamakan kestabilan akan melahirkan masyarakat (societas) yang adem ayem, tenang, tanpa gejolak, dan tanpa dinamika. Apalagi, jika kestabilan dibangun dibawah kekuasaan otoriter dan totaliter. Dalam masyarakat semacam ini, tidak bisa diharapkan tumbuhnya benih-benih krrativitas, perubahan, perkembangan, prakarsa, dan inisiatif. Karena itu kestabilan harus dibangun bersama dinamika.

Kestabilan dan dinamika adalah dua aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama. Masyarakat yang stabil harus menjadi masyarakat yang dinamis, dan masyarakat yang dinamis juga harus menjadi masyarakat yang stabil. Kestabilan hendaknya menjadi landasan dinamika, dan dinamika harus bermuara pada kestabilan sejati. Dinamika yang dikelola dengan baik tidak perlu mengganggu stabilitas, dan stabilitas sejati tidak mengahambat
dinamika dan tetap terbuka bagi kreativitas untuk mengembangkan masyarakat menjadi lebih maju, lebih beradab, dan lebih manusiawi.

Dalam sejarah dunia, Indonesia termasuk dalam bilangan negara yang terberkati. Julukan ini bisa diberikan, mengingat kekayaan yang ada didalamnya luar biasa. Kekayaan itu tidak saja terletak pada keanekaragaman sumber daya alamnya, melainkan juga pada nilai-nilai budayanya yang luhur. Namun dalam perjalanannya, julukan manis ini, nampaknya hamper menjadi kenangan. Fakta menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir, bangsa ini mulai kehilangan identitas yang justru menjadi dasar pengakuan di atas. Kenyataan ini bersumber pada empat fenomena buruk yang sedang menghantam bangsa ini.

Pertama, disorientasi nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi bangsa. Sejak Orde Baru runtuh, eksistensi Pancasila mengalami resistensi, bahkan cendrung diabaikan dari realitas hidup berbangsa dan bernegara.

Kedua, pergeseran nilai-nilai etis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain dampak positif, pembangunan ekonomi juga membawa dampak negatif yang tidak sedikit dalam relasi social. Dampak itu adalah peregeseran terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan personal dan kehidupan social.

Ketiga, memudarnya kesadaran nilai-nilai budaya bangsa. Fakta lain yang sekarang menghantui masyarakat adalah gencarnya gempuran alat komunikasi yang begitu canggih dan pesat.

Keempat, ancaman disintegrasi bangsa. Tidak hanya penghayatan nilai-nilai dasar kebangsaan mengalami degradasi, melainkan juga rasa kebangsaan dalam arti mengakui sesama anak bangsa dan alat negara sebagai bagian integral dirinya semakin menipis. Hal ini dibuktikan dengan maraknya konflik yang bersifat horizontal dan vertical. Bahkan muncul dan berkembang sikap anarkisme dan vandalisme masyarakat.

Empat situasi buruk di atas merupakan ancaman yang berat bagi eksistensi dan identitas bangsa ini ke depan. Agar kedua hal ini tetap langgeng dan mencegah ekses yang tidak diharapkan, perlu dilakukan sesuatu, khususnya bagi generasi muda. Menagapa generasi muda? Karena generasi muda merupakan harapan masa depan bangsa yang paling nyata. Prospek dan nasib sebuah bangsa ada di tangan mereka. Kepedulian yang begitu besar pada masa depan mereka merupa ungkapan kepedulian pada masa depan sebuah negara dan bangsa.

Sumber: pmiijabar.or.id