Hari Buku; “Pemuda Dan Hedonisme Baca”

Hari Buku; “Pemuda Dan Hedonisme Baca”

147
BERBAGI
Risal Mursalim, S.Pd. (dok/pantaudesa.com)

Penulis: Risal Mursalim, S.Pd
pendiri Komunitas Baca Tulis (KOMBAT) Bone

Sedari dulu guru-guru kita di sekolah telah menanamkan doktrin yang sangat bagus. Mereka hampir setiap harinya menyerukan bahwa “Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, maka semua informasi yang ada di dunia akan dengan mudah kita ketahui”.

Hanya saja, sangat disayangkan ketika mendapati hal tersebut tidak lagi memberi efek stimulan bagi masyarakat, terutama kalangan remaja. Kini, ungkapan-ungkapan seperti itu dianggap tidak lebih sebagai angin lalu saja. Sehingga terkesan tidak efektif lagi untuk digunakan.

Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi, semakin sulit pula kita temukan remaja yang gemar membaca. Kebanyakan dari mereka, kini lebih memilih untuk hura-hura, tinggal di rumah menonton TV ataukah mendengar musik, nongkrong bersama teman-teman, berjibaku dengan laptop untuk chatting di social media. Seolah semua hal tersebut telah membutakan mereka akan budaya baca buku.

Para pelajar lebih memilih mengambil jalan pintas untuk browsing di internet ketimbang mencari secara mandiri di buku. Mereka merasa bahwa data yang diperoleh dari internet lebih mempermudah. Sebab, bisa langsung disalin untuk dimasukkan ke dalam tugas-tugas mereka. Sehingga, yang terjadi bukanlah pencerdasan, tapi justru lebih kepada perbudakan. Mereka tidak berminat lagi dalam membaca buku, mereka merasa bahwa membaca buku justru memperlambat mereka.

Meskipun setiap sekolah dan kampus telah menyediakan perpustakaan, namun yang terjadi, perpustakaan tersebut dianggap sebagai tempat menyimpan buku semata. Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan. Sepinya perpustakaan telah menjadi bukti bahwa minat baca buku pemuda masihlah sangat rendah.

Saya melihat, rendahnya minat baca tersebut disebabkan oleh beberapa faktor;

Pertama, warisan budaya dari orang tua. Budaya baca memang tidak menjadi prioritas yang diwariskan. Sejak kecil kita lebih banyak dituntut untuk selalu mendengar daripada membaca. Mereka membiasakan kita untuk mendengar cerita-cerita dongeng atau kisah kebudayaan. Mereka tidak pernah memaksa kita untuk membaca sendiri.

Kedua, faktor lingkungan. Lingkungan yang buruk tentu akan mempengaruhi atmosfer minat baca. Banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak memiliki motivasi baca buku, otomatis akan menular sedikit demi sedikit. Maraknya komunitas-komunitas kontra produktif yang digandrungi remaja, perlahan tapi pasti memberikan pengaruh buruk bagi mereka.

Ketiga, pengaruh teknologi yang semakin canggih. Banyaknya media hiburan seperti TV, komputer, handphone, dan lain–lain membuat kita menjadi malas membaca. Hal ini banyak menyita waktu dan memancing kita untuk tidak meluangkan waktu membaca buku.

Keempat, kurangnya kesadaran dan motivasi. Budaya membaca tidak akan tercipta apabila kita tidak disertai dengan kesadaran akan pentingnya membaca. Meskipun lingkungan mendukung, namun jika tidak ada kesadaran, tentu saja budaya tersebut tidak mampu dimunculkan. Motivasi dari orang sekitar juga sangat diperlukan. Agar dapat terbentuk mindset yang positif.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, terutama di kalangan pemuda.

Pertama, Penyediaan buku-buku bacaan yang memadai di perpustakaan harus menjadi perhatian. Baik dari segi kuantitas judul maupun kualitas tidak boleh luput dari perhatian. Sebab, remaja biasanya mudah merasa bosan. Buku-buku koleksi, harus senantiasa di perbaharui. Agar tidak menimbulkan kejenuhan bagi para pembaca.

Kedua, sosialisasi tentang pemberian pemahaman akan pentingnya membaca juga harus dilakukan. Bisa dimulai dengan melakukan sosialisasi ke setiap sekolah atau kampus. Akan lebih baik lagi jika pihak kepala sekolah/rektor, guru/dosen, dan staff pegawai lainnya dilibatkan dalam sosialisasi seperti ini. Bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pelajar bahwa membaca memiliki banyak manfaat. Karena dari membaca pengetahuan semakin luas dan akan banyak hal baru yang dapat kita peroleh. Atau bisa juga dengan mengadakan lomba pemilihan duta baca. Duta baca inilah yang nantinya akan menjadi pelopor gerakan membaca.

Ketiga, penyediaan buku murah berkualitas atau dengan menyelenggarakan pameran buku murah. Sehingga pengunjung terutama pelajar, memiliki keinginan untuk membeli buku yang murah dan keinginan untuk membacanya. Umumnya, event-event seperti ini lebih diminati kalangan pemuda daripada harus datang langsung ke perpustakaan membaca buku.

Keempat, Suasana Perpustakaan haruslah kondusif. Tidak boleh ada keributan dalam perpustakaan. Koleksi buku-buku harus ditata serapi mungkin agar pengunjung betah berlama-lama.

Kesimpulan:
Minat baca mayarakat terutama di kalangan muda masih sangat rendah. Ada banyak faktor yang menyebabkan, diantaranya adalah pengaruh teknologi dan lingkungan. Kebanyakan pemuda lebih memilih untuk menonton TV daripada harus membaca buku. Mereka terkadang lebih memilih untuk hang out bersama dengan teman-teman dari pada berkunjung ke perpustakaan. Selain itu, Ada pula sifat dalam diri kebanyakan pemuda yang sangat buruk. Yakni, bermasa bodoh dan tidak ingin tahu. Mereka sama sekali tidak peduli dengan apa yang harus dilakukan. Mereka betul-betul terjebak dalam dunia hedonism.
Oleh karena itu, harus ada perubahan pola gerakan. Gerakan yang lebih aktif untuk mensosialisasikan gemar membaca terutama kepada pemuda, selaku generasi penerus bangsa. Sebab, di dalam upaya peningkatan minat baca, akan terwujud pula peningkatan mutu bangsa ke arah yang lebih baik.

“Selamat Hari Buku, 23 April 2017..!”