Refleksi Gerakan Perempuan; Berjuang atau Diperjuangkan?

Refleksi Gerakan Perempuan; Berjuang atau Diperjuangkan?

231
BERBAGI
Siti Rohana

Penulis: Siti Rohana
(Ketua KOPRI PC PMII Kabupaten Sukabumi)

“Karena bicara Negara adalah bicara laki-laki dan perempuan, selanjutnya bicara tentang kemanusiaan adalah menyesuaikan kodrat (fungsi) nya sebagai manusia laki-laki/perempuan. Mari kita refleksikan apakah benar bahwa sejatinya selama ini kita telah berjuang atau hanya diperjuangkan?

Salam pergerakan !!!

Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk memimpin (memakmurkan) bumi demi kemaslahatan ummat. Hal ini tidak terlepas dari peran (interaksi) laki-laki dan perempuan yang menempati posisi sebagai manusia dengan segala potensinya.

Memahami gerakan perempuan dimulai dengan memahami definisi, hakikat dan peran perempuan itu sendiri. Kesalahan dalam memahami istilah Perempuan sering mengakibatkan adanya asimetris/tidak sama, ketimpangan, tidak setara, diskriminatif/membeda-bedakan bagi kaum perempuan sehingga dari kesalahan pemahaman tersebut menjadi turun-temurun dari generasi ke generasi, hingga pada akhirnya dibenarkan oleh budaya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah perempuan berasal dari kata empuk berarti lunak; tidak keras. Lalu ditambah awalan-per-an sehingga mengandung makna sebuah proses, bahwa yang lunak tersebut bisa diproses, diarahkan sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan.

Istilah Perempuan dalam Al-Quran dikenal dengan kata “al-untsa asal kata aa-na-tsa yang mengandung arti lemas, lembek, tidak keras, halus. Yakni dipahami secara biologis yang menunjukkan jenis kelamin/seks yang sudah menjadi kodrat Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh siapapun. Selanjutnya dengan kata “an-nisa mengandung arti perempuan yang dilihat dari segi fikir/nalar kritisnya, kematangan dalam menganggapi segala permasalahan yang dihadapi dan kedewasaan untuk menjadi khalifah dimuka bumi.

Peran kekhalifahan ini tidak serta merta berjalan begitu saja tanpa adanya proses kaum perempuan dalam memantaskan dirinya sebagai hamba/manusia yang berkualitas. Urgensi perannya seorang perempuan dalam dunia gerakan, keluarga maupun sosial tidak terlepas dengan menanamkan nilai-nilai keislaman maupun keindonesiaan terlebih dahulu dalam dirinya.

PMII yang berideologikan Islam Ahlussunnah Waljamaah memberikan perhatian yang besar terhadap keberlangsungan gerakan kaum perempuan, tidak hanya dituntut untuk bergerak pada wilayah keperempuanannya semata, akan tetapi diarahkan untuk berekspresi seluas mungkin dalam mengemban tugas kekhalifahannya.

Sejenak membuka lembaran sejarah perempuan pada zaman pra-Islam, yang dijadikan warisan dan tidak mewarisi. Warisan, bukan warisan kehormatan sebagai manusia serta potensi yang dimilikinya tapi sebagai alat yang bisa dinikmati kapan saja dan oleh siapa saja ketika ada perseteruan antar suku. Mewarisi, sejatinya manusia (perempuan) yang diciptakan sebagai ‘Abdullah dan Khalifah dimuka bumi, maka sudah seharusnya ia mampu mengaktualisasikan dirinya dalam situasi dan kondisi apapun dalam hal ini laki-laki dan perempuan sama-sama berjuang (mengasah mengisi) dan masing-masing akan mendapatkan pernghargaan dari apa yang diperjuangkan/diusahakannya, seperti itulah yang pernah dijanjikan oleh Tuhan Semesta Alam.

Keberadaan bahwa “laki-laki lebih tinggi dari wanita” QS.2:228, dan “laki-laki adalah pelindung perempuan karena Tuhan telah memberikan kelebihan atas mereka” QS.4:34 tidak harus dipahami secara tekstual bahwa seolah kaum perempuan tidak mampu melakukan apapun kecuali dengan bantuan laki-laki, karena laki-laki dan perempuan lahir dengan potensi sesuai kodratnya masing-masing. Oleh karena itu, pribadi dan perjuangan yang harusnya dimiliki oleh kaum perempuan tidak terpaku pada hal-hal yang sifatnya sementara (persaingan laki-laki dan perempuan), tapi memprioritaskan pada interaksi yang berkesinambungan secara vertical maupun horizontal (hablummin-Allah-annas-alam) sehingga pemaknaan islam sebagai agama rahmatan lil’alamin nyata dirasakan oleh alam beserta isinya. Dan hal ini akan terwujud apabila para perempuan menempatkan posisi dirinya dengan seadil-adilnya baik dalam lingkungan maupun sosial, karena bangunan interaksi sosial yang baik diawali dari bangunan keluarga yang dimanage dengan baik.

Pertanyaan sederhana, kiblat perjuangan/pergerakan perempuan yang kita pahami sejauh ini yang seperti apa? Sudah sesuaikah dengan konstruk basis nilai Ahlussunah waljamaah, bukankah visi besar yang dilahirkan oleh PMII merupakan rumusan nilai keislaman dan keindonesiaan yang saling berkesinambungan. Bukankah orang-orang hebat yang diciptakan untuk mendampingi para Nabi adalah sebagiannya kaum Perempuan, seperti Siti Hawa, sebagai wanita pertama yang dicptakan Tuhan untuk menemani nabi Adam as memimpin bumi, Siti Sarah sebagai wanita cantik yang pertama kali beriman kepada dakwahnya Nabi Ibrahim as, Siti Hajar yang dikenal karena keteguhan imannya, ketaqwaan dan tawakalnya kepada Allah swt. Sehingga diabadikan dalam syariat haji yaitu sa’I, berlari-lari kecil antara bukit safa’ dan marwa, dan Ibunda Musa yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, untuk diadopsi oleh Asiyah Binti Mazahim, istri Firaun yaitu istri yang solehah dari raja penguasa yang kejam, ia dengan teguh memberontak dan mempertahankan keyakinannya dengan segala macam resiko yang diterima. (QS. At-Tahrim 66:11).

Maka begitu juga dengan refleksi gerakan dan perjuangan perempuan dalam organisasi PMII harus dibangun seelit mungkin serta tidak bertentangan dengan visi dan misi PMII itu sendiri. Bahwa pembentukan pribadi muslim Indonesia yang utuh akan terwujud dengan adanya kerjasama yang utuh antara laki-laki dan perempuan, maka kesiapan mental untuk terus berjuang bagi kaum perempuan harus senantiasa dibangun, karena dunia gerakan PMII tidak hanya bicara dominasi laki-laki melainkan laki-laki dan perempuan sama-sama berjuang demi memassifkan gerakan dan mewujudkan tujuan PMII.

Sumber: pmiijabar.or.id