Sentimen Anti-Imigran Memanas di Afrika Selatan

Sentimen Anti-Imigran Memanas di Afrika Selatan

120
BERBAGI
Warga negara asing saat bentrok dengan pengunjuk rasa anti-imigran di barat Pretoria. (aljazeera.com)

PANRAUDESA.COM, CAPE TOWN—Kekerasan terhadap imigran berkobar lagi di Afrika Selatan. Ratusan orang turun ke jalan untuk meneriakkan anti-imigran dalam beberapa minggu terakhir, sejak awal Februari lalu.

Rumah-rumah dan toko milik imigran dijarah dan dibakar di pinggiran Kota Johannesburg dan Pretoria, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang sentimen anti-asing atau xenofobia di negara itu. Senin, 27 Februari 2017, polisi Afrika Selatan menjelaskan, sekitar 100 orang menjarah toko milik imigran di Johanesburg pada Minggu malam dalam gelombang baru serangan xenofobia.

“Kami telah menindaklanjuti laporan dan akan menangkap pelaku,” kata juru bicara polisi, Brigadir Mathapelo Peters, seperti yang dilansir Vanguard pada 27 Februari lalu.

Serangan terbaru itu mengingatkan kembali kekerasan xenofobia pada 2008 dan 2015 yang mengakibatkan kematian warga asing dan ratusan imigran mengungsi. Mereka terlalu takut untuk terus hidup dalam komunitas baru mereka tersebut.

Dengan berakhirnya apartheid pada 1994, Afrika Selatan membuka diri kepada dunia. Kebijakan itu membuat aliran imigran dari seluruh Afrika ke selatan untuk mencari keselamatan dan peluang hidup yang lebih baik. Afrika Selatan menjadi tempat yang paling cepat berkembang dan ekonomi terbesar di benua itu.

EDITOR: AHWAL
SUMBER: VANGUAR.COM